Gili Gede dan Gili Layar. Keren, sih, Berkesan juga, tapi …

Gambar Gili Gede

Menghabiskan malam tahun baru dengan berlibur ke pulau kecil di ujung selatan bagian barat Pulau Lombok tidak pernah terlintas dalam pikiran saya sama sekali. Awalnya saya hanya ingin menghabiskan hari itu dengan tiduran di kamar, mendengar lagu atau membuka laptop sembari menulis beberapa blogpost. Namun rencana hanya tinggal rencana, karena tanpa perencanaan matang liburan menjelang pergantian tahun ini ternyata sangat berkesan.

Saya tidak perlu panjang bercerita alasan berlibur ke Gili Gede, yang jelas mari disimak saja bagaimana serunya saya berlibur di malam pergantian tahun menuju 2020. Yah, sisi positifnya adalah, terkadang ada beberapa hal yang lebih berkesan bila dilakukan secara spontan.

***

Singkat cerita, kami—saya bersama keluaga—berangkat ke Gili Gede sekitar pukul lima sore menggunakan mobil dari Praya, Lombok Tengah. Sekedar informasi, Gili Gede terletak di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Melewati Pelabuhan Lembar masih jauh ke selatan.

Ketika melewati Pelabuhan Lembar Anda akan dihadapkan oleh dua opsi jalan yang bisa dipilih, jalur atas atau jalur bawah. Demi keamanan atau merasa kendaraan yang digunakan tidak memungkinkan melalui jalur terjal, Anda bisa melewati jalur bawah. Tapi bila kendaraan dalam kondisi prima, tidak ada salahnya melewati jalur atas. Karena melewati jalur atas akan menghemat waktu perjalanan Anda hingga dua jam.

Singkat cerita setelah melalui melewati jalur bawah dan istirahan solat, kami akhirnya sampai di Gili Gede pukul 9 malam. Sebenarnya tidak ada penyebrangan malam dari Sekotong ke Gili Gede, tapi salah satu kerabat yang ikut sudah memesan terlebih dahulu melalui telepon. Waktu penyebrangan tidak terlalu lama, sekitar 30 menit.

Oh iya, tahu tidak, sebelumnya saya sudah membayangkan pulau ini akan sangat ramai, penuh dengan orang-orang yang akan merayakan tahun baru. Faktanya? Sungguh, saya benar-benar terkejut melihat Gili Gede sangat sepi. Bukan berarti tidak ada orang, tapi sepi seakan malam sudah sangat larut dan orang-orang telah lelap dalam mimpinya. Jauh di luar ekspektasi.

Saya mengira Gili Gede akan seperti Gili Trawangan atau gili lainnya yang cukup populer sehingga banyak orang akan menghabiskan malam tahun baru di sana, ternyata saya salah besar. Gili ini tidak populer, bahkan mungkin jauh dari kesan itu.

Jadi, bagi kamu yang tidak terlalu suka keramaian dan ingin puas berlibur, mengunjungi Gili Gede adalah opsi yang tepat.

Di Gili Gede, sebelumnya kami sudah menyewa homestay dengan tarif 200 ribu per malam. Lokasinya tepat di pinggir pantai dan cukup strategis. Fasilitasnya juga sangat lengkap. Tapi tidak seperti hotel di kota, di sini tidak disediakan tv dan AC. Selain itu sinyal di sini sangat bapuk, jadi kalau kamu berencana ke Gili Gede jangan tinggal di kamar saja. eh, tapi kalau kamu berjalan sedikit ke pantai sinyalnya bakal lancar lagi, kok.

Tujuan utama datang ke pulau ini adalah untuk berlibur, jadi tentu tv atau ac tidak dibutuhkan karena kami di kamar hanya numpang tidur saja. Selain itu, suasana kekeluargaan di antara kami menjadi lebih erat karena tidak ada yang bermain hape atau sibuk sendiri. Saya jadi teringat film Susah Sinyal, ada yang udah nonton film ini?

Tidak ada yang spesial dari malam tahun baru. Saya hanya jalan-jalan sedikit di sekitar pantai, sesekali mencari sinyal sebelum tidur sekitar pukul 10 malam. Mengingat kembali suasana alam pinggir pantai saat itu memebuat saya rindu tempat itu lagi. Lalu pagi yang disambut hujan membuat kami gagal menikmati sunrise.

Oh iya, homestay tempat saya menginap saat itu belum memiliki nama karena masih sangat baru dan kami adalah orang pertama yang menginap di sana. Kalau ada yang mau tahu lebih lanjut bisa bertanya di kolom komentar untuk saya teruskan ke kerabat yang sebelumnya memesan. Kebetulan dia kenal dengan pemilik homstay tersebut.

***

Saya tidak ingin panjang lebar bercerita terlalu detail seperti membuat buku harian, yang jelas liburan dadakan hari itu sangat berkesan. Di sana kamu bisa membeli ikan tongkol ukuran besar dan segar langsung dari nelayan dengan harga seribu rupiah saja untuk satu ekor ikan tongkol. Sangat murah, bukan? Belum lagi spot foto yang akan memanjakan pecinta fotografi atau yang sekadar suka selfie.

Tapi dari semua itu ada satu hal yang cukup berkesan karena hanya bisa Anda temukan di pantai-pantai tertentu saja. itu adalah saat di mana air laut di Gili Gede sedang surut dan beragam binatang laut terjebak di pinggir pantai, beberapa di antaranya belum pernah saya lihat sebelumnya. Anak-anak yang ikut sangat tertarik dengan hal ini,

***

Meski berkesan, namun pantai di Gili Gede tidak bisa dijadikan tempat untuk berenang karena satu dan lain hal—termasuk alasan keselamatan. Untuk itu kami memutuskan menyebrang ke Gili Layar. Jaraknya tidak terlalu jauh, menggunakan perahu hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit saja. Apa ada yang sudah pernah tahu Gili Layar?

Mungkin banyak yang belum familiar dengan Gili ini, terutama untuk masyarakat luar Lombok. Terbukti dari pengunjung yang datang saat itu juga tidak terlalu banyak. Padahal saat itu adalah liburan tahun baru dan pantainya juga tidak kalah dibandingkan Gili Trawangan. Memiliki pasir putih, air laut yang jernih, bahkan ada spot snorklingnya.

Yang paling menarik di Gili Layar tentu spot snorklingnya, itu yang menjadi tujuan kami sejak awal datang ke gili ini. penduduk setempat yang merekomendasikan, karena katanya Gili Layar memiliki spot snorkling yang bagus.

Tapi sayang, terdapat banyak sekali sampah berserakan ditempat ini banyak sekali sampah berserakan. Bahkan di beberapa sisi saya melihat sampahnya berjejer rapi di tengah laut seakan sengaja dibuang di titik itu. Sebuah pemandangan kontras bila disejajarkan dengan air laut yang bening.

Selain belum banyak yang tahu karena lokasinya cukup jauh dari pusat kota, tingkat kebersihan dan kenyamanan mungkin menjadi alasan tidak banyak pengunjung yang datang. Saya kira masyarakat sekitar tidak peduli dengan itu dan pemerintah setempat tidak memberikan perhatian.

Bahkan hanya sekadar tempat bilas saja kondisinya cukup memprihatinkan. Saya juga tidak melihat ada mushola di dekat pantai, jadi saya terpaksa solat di pinggir pantai dengan peralatan seadanya. Saya juga coba browsing di internet tentang Gili Layar,  dan hasilnya sangat mengecewakan. Tidak ada informasi detail tentang gili ini.

Padahal bila dikelola dengan baik, Gili Layar bisa menjadi destinasi wisata favorit yang akan mengangkat pendapatan di desa tersebut, mengingat alamnya yang luar biasa.

Yah, semoga ada penduduk setempat atau pemangku kepentingan dari Gili Layar yang membaca tulisan saya ini. Dengan segala keindahan alamnya, manusia hanya perlu menjaga dan melestarikannya saja. Seharusnya itu tidak sulit, bukan?

***

Dokumentasi pribadi Snorkling di Gili Layar. Subscribe juga ya

Meski dengan berbagai kekurangan yang ada kami tetap menikmati liburan di Gili Layar, terutama panorama bawah lautnya. Benar-benar pengalaman tak terlupakan. Apalagi ini adalah kali pertama saya menggunakan action cam di bawah air setelah dua tahun memilikinya.

Buat kamu yang penasaran video atau foto lainnya seperti apa bisa meluncur ke instagram @bloggertravel, jangan lupa follow juga ya.

Singkat cerita kami kembali ke tempat di mana mobil terparkir sekitar pukul 5 sore dengan cuaca yang sudah sangat berawan. Firasat buruk menghampiri. Dan benar saja, di perjalanan kami dihampiri oleh hujan yang sangat lebat di tengah jalan. Jarak pandang saya sebagai supir jadi terbatas, apalagi hari saat itu sudah gelap.

Drama melewati jalur atas yang cukup terjal dan sebagian sudah terdapat luapan banjir hingga sempat salah masuk ke jalan kecil membuat penumpang saat itu cukup panik. Alhamdulillah, Tuhan masih sayang sehingga kami dapat pulang dengan selamat. Yah, sebenarnya melewati jalur atas dalam kondisi normal tidak masalah asal kendaraannya dalam kondisi baik.

Yah, begitu cerita saya berlibur ke Gili Gede dan Gili Layar. Pulau cantik, yang ‘tidak terawat’. Tertarik ke sini? Ada banyak spot foto keren, lho! Apalagi di sini juga belum didatangi banyak wisatawan, tidak seperti Gili Trawangan. Saran saya, sebaiknya datang secara rombongan. Mungkin 5 sampai 10 orang. Kenapa? Karena ini dengan begitu biaya sewa perahu akan menjadi lebih murah bila dibayar secara patungan. Hehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *